Tiga Permintaan: Dari Pembaca ke Penulis
![]() |
| dokumentasi penulis |
Buku apa yang paling disukai? Pertanyaan yang hadir setelah menyimak Cucurak #1 dengan narasumber Kang Kiki Masduki tentang mengelola rumah cahaya. Rumah cahaya adalah istilah di FLP yang mengacu pada taman bacaan masyarakat.
Dari pemaparan Kang Kiki selaku pengurus rumah cahaya dan BPP FLP Divisi Rumah Cahaya, saya menyimpulkan bahwa mengelola taman bacaan masyarakat diperlukan keikhlasan dan tekad yang kuat. Merawat puluhan, ratusan, bahkan ribuan buku bukan hal yang mudah. Membiasakan masyarakat untuk membaca pun tak kalah sulitnya. Namun, jika sudah panggilan hati, semua itu tidak jadi soal.
Saya pribadi ingin sekali membuka taman bacaan masyarakat, tetapi kemampuan saya belum sampai sana. Buku-buku yang saya beli dari 12 tahun lalu hanya menjadi koleksi pribadi. Memenuhi rak-rak, bahkan ada yang rusak karena salah penyimpanan. Dari sekian judul buku, ada satu buku yang cukup membekas. Bukan buku yang saya beli, melainkan sebuah buku bekas yang dibawa oleh Bapak.
Sebuah buku anak berukuran kecil, A6 mungkin. Sampulnya warna hijau bergambar seorang anak laki-laki yang ditarik para kurcaci. Judulnya Tiga Permintaan dari Seri Kumbang yang tentu sudah tidak asing. Serial yang ditulis Enid Blyton, dulu saya membacanya Guid Blyton.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai tukang di kota, Bapak selalu pulang dengan buah tangan. Yang paling saya nantikan keluar dari tas selempang warna cokelatnya adalah buku. Buku apa saja saya suka waktu itu, bahkan LKS SMA tentang komputer dan olahraga. Namun, yang saya baca berulang adalah buku cerita Tiga Permintaan dan komik Detektif Conan. Buku yang bahkan halamannya sudah ada yang hilang.
Tiga permintaan berisi delapan cerita yang hampir semuanya masih saya ingat, beberapa tokohnya sangat membekas. Seperti Sally Ceroboh dan Tabitha Jujur. Setelah membaca itu saya selalu berharap mendapat 'harta karun' setiap beres-beres rumah.
Di sampul belakangnya ada delapan judul yang awalnya saya kira adalah judul-judul cerita di dalam buku. Saya cari-cari, hanya ada satu judul yang sama, yaitu Tiga Permintaan. Aneh sekali pikir saya, mungkin salah cetak. Berselang lama dari pemikiran sederhana itu saya baru tahu bahwa judul di sampul belakang adalah daftar judul buku di Seri Kumbang. Oh ini buku serial, pikir Nurul kecil.
Tahun 2024, saya mulai tertarik menulis cerita anak. Saya teringat lagi buku yang menamani masa kecil, sayangnya buku tersebut entah di mana. Perasaan untuk memilikinya lagi meluap-luap. Saya harus cari, kalau bisa semua judul saya beli.
Adanya lokapasar cukup membantu, saya mengetik kata kunci langsung muncul buku yang diinginkan di beberapa toko. Tidak banyak memang, tetapi saya bersyukur masih ada yang menjual. Ada yang menawarkan buku bekas dengan sampul yang sama, ada juga buku baru bersegel. Pilihan saya jatuh pada buku baru karena dijual seri lengkap meskipun dengan sampul baru. Padahal saya ingin buku yang sama persis dengan buku oleh-oleh Bapak sebagai pengobat rindu. Ya sudahlah, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita mau dengan persis.
Buku yang saya beli itu cetakan ke-16 yang dicetak Agustus 2018. Sementara cetakan pertamanya tahun 1986. Wow, sudah lama sekali. Dulu saya tidak memperhatikan hal-hal tersebut.
Dari buku cerita Tiga Permintaan ini, saya mendapat pelajaran bahwa setiap cerita akan punya pembacanya sendiri. Cerita anak sedikit-banyak turut andil dalam membentuk karakter pembacanya. Maka saya termotivasi untuk membuat buku sebagus mungkin agar bermanfaat bagi pembaca. Kebahagiaan yang tak terkira jika cerita yang kita tulis masih melekat di ingatan pembaca setelah bertahun-tahun, bahkan pembaca rela mencari buku dengan harga berkali lipat demi mengembalikan kebahagiaan saat membacanya. Tentu tidak mudah, tetapi saya akan terus mencoba.
Ciamis, 26 Februari 2026
Ditulis oleh Nurul Azizah pengagum cerita anak yang sedang merintis jadi penulis cerita anak.
