CERPEN: DIA

Oleh 

Hadi S. Abdullah



 

Seorang perempuan yang mengenakan gamis serba putih terlihat memasuki halaman hotel bintang lima di pusat kota. Langkahnya mantap dengan menggandeng tas di bahu dan sepatu bertumit sedikit tinggi menggema lalu menyapa seorang pria yang juga baru datang di muka halaman hotel tersebut. 

“Kang, sudah menunggu lama di situ?” teriak si perempuan yang berkulit putih juga bercahaya itu walaupun langit sedang mendung. 

Si pria sedikit terkejut karena janji untuk menunggunya di lobi hotel tidak terpenuhi, malahan bertemu di pos parkir pintu masuk. “Belum lama, Sha,” kata si pria, “malah jadi saya yang terlambat.”

“Yowes, Kang. Kita sama-sama terlambat.” Si pria berjalan lebih depan untuk bertanya kepada satpam hotel di mana acara yang ditunjukan dengan tiket yang dibawanya. Namun, tanpa melihat ke arah tiket yang ditunjukkan, si satpam tersebut sudah paham betul ke mana tujuan mereka berdua. Mungkin ia melihat keduanya yang sedang memakai baju serba putih dan di hotel tersebut hanya ada satu acara yang bernuansa keagamaan diselenggarakan.

Saat masuk area balairung, si pria mencoba mengimbangi langkah Rumaisha. Hingga dapat terlihat oleh semua orang bahwa mereka datang bersama, tetapi bukan sebagai sepasang kekasih melainkan rekanan. Ada jarak yang harus diperhatikan keduanya karena mereka bukan mahram.   

“Kita hanya berdua saja, Kang Rizal?” Rumaisha melirik dari sudut kacamatanya. “Maksudnya… yang ikut dari komunitas kita hanya berdua?”

Rizal tersenyum. “Tidak. Ada Anis, dan kebetulan tadi saya tanyakan lewat pesan WhatsApp, beliau sudah berada di balai ruang acara.”

“Semoga di dalam sana kita bisa bertemu,” Rumaisha melanjutkan. 

Anis yang duduk terpisah dua meja dari mereka melambaikan tangan. Dia sedikit terkejut bahwa Rizal datang bersama Rumaisha. Usai acara dan jamuan makan, dia menghampiri keduanya. Anis dan Rumaisha berpelukan tangan dan berciuman pipi saat saling bertemu. 

“Isha!”

Rizal kembali tersenyum. “Kak Anis, kenapa tadi tidak duduk di sini. Kan kita bisa ketawa bareng saat dengar ceramah ustad tadi,” kata Rumaisha.

“Tadi kebetulan ada jamaah lain pinta kenalan. Dia sendirian kasian kalau ditinggal di tengah acara.” Anis melirik Rizal dan melihat di sekeliling meja bundar hanya terlihat dua wajah yang familier. “Kalian berdua saja… yang lain mana?”

Rumaisha menggelengkan kepalanya. Anis menyimpan koktail buah yang telah dibawanya dari jajaran perasmanan di muka balai ruang. “Kalian mau apa? Biar saya ambilkan sekalian mau ambil kue. Kalau makanan berat nanti saja itu antrean masih panjang begitu.”

“Tidak usah, Kak Anis. Biar nanti saya ambil sendiri,” kata Rumaisha. Rizal pun setuju. Kemudian Rizal pamit untuk mengantre. 

“Kalian sudah jadian ya?” tanya Anis sambil tertawa menggelitik. Rumaisha mulai tersenyum, dan akhirnya mereka berdua tertawa. Hanya saja malah Anis yang tersipu malu akan pertanyaannya tadi dan memukul-mukul kecil paha Rumaisha dengan gemas. “Jahat ya tidak bilang-bilang kepada semua orang.”

“Huh, tidak mungkin kita jadian, Kak!”

Anis masih tersenyum melihat tingkah Rumaisha yang menggemaskan. Gelagatnya terlihat jelas bahwa dia menginginkan itu juga, tetapi sayang tidak ada kata pacaran di kamus mereka berdua. 

Rumaisha menarik badannya ke belakang. Bersandar. Bibirnya dilumat agar basah oleh air minum yang telah diteguk. “Kak Anis jarang terlihat di acara-acara komunitas. Ke mana aja? Sudah lupa ya sama kita-kita?” lanjutnya. 

“Duh, saya malas dengan kepengurusan sekarang!” ujar Anis gamblang.

Rumaisha terkejut dan terdiam. Dia melihat Rizal kembali dengan membawa dua piring makanan untuknya dan Rizal. Anis semakin terheran-heran. Melihat wajah Anis yang seperti itu Rumaisha mengalihkan pemikirannya dan berkata, “Kak Anis, kan aku juga masih bagian dari pengurus loh!”

“Oh, masih! Setelah kita tahu bahwa ketua pengurus kemarin membawa kabur uang yang bukan haknya?” agaknya Anis memang suka menyindir. Mungkin itu untuk kebaikan kita semua. 

“Itu hanya rumor, Kak! Jangan percaya. Memang rumor itu kentara tingginya.”

“Bukan rumor, dong! Jika sebagian pengurus banyak yang minggat. Kamu tahu! Saya sudah menanyakan kebenaran itu ke beberapa orang. Bahkan orang yang selama ini dekat dengan dia membenarkan rumor itu.”

Rumaisha membelalakan matanya. “Siapa? Siapa yang keluar dari kepengurusan? Sepertinya Kak Anis sedang membuat cerpen ya? Setahu saya semua pengurus lama keluar atau tidak aktif karena kesibukan lainnya.”

“Isha pasti tahu siapa, dan saya tidak perlu memberitahukan siapa?”

“Anis tidak ambil makanan? Nanti tidak akan keburu, loh, habis soalnya,” kata Rizal memecah perbincangan yang mulai sedikit memanas.

Ketiganya hening. Masing-masing memandang ke lain jurusan. Anis melihat antrean yang mulai sedikit. Rizal memandang Rumaisha yang kini sedang mencari tisu untuk mengelap alat makannya. Lalu Anis pergi. Masuk ke dalam antrean. Rumaisha menggoyang-goyangkan kepala melihat makanan yang telah dibawa Rizal adalah makanan favoritnya. 

“Sudah jangan dilanjutkan pembahasan yang tadi. Bukan saja membuat kamu sakit hati, tetapi hati Anis juga akan terluka lagi. Bukan hanya itu saja. Nanti masalah akan merembet ke hal-hal lain,” kata Rizal.

“Saya hanya tidak mengerti dari mana asal mula rumor itu beredar, dan kok berdampak cukup parah hingga kelangsungan kepengurusan di komunitas menjadi labil.”

“Ya, semua pasti ada pusatnya, seperti halnya gempa di Cianjur. Pusat titik gempa berasal dari sana, dan kita yang di Bandung bisa merasakan getarannya, kan?”

“Jelas-jelas semua yang dibicarakan olehnya pada waktu rapat pertanggung jawaban tidak dapat diklarifikasi kebenarannya,” sela Anis melanjutkan permbicaraan tadi setelah duduk, “betul kok! Aku cek semua pernyataan dirinya, dan semua tidak ada yang benar satu pun juga. Contoh nih, masalah yang katanya uang itu dibelikan untuk dana pembuatan film. Biar acara kita nanti didokumentasikan dengan baik. Saya cek ke rumah produksi film yang dia tunjuk ternyata tidak ada kontrak sebelumnya. Juga kenapa, jika betul uang itu dipakai untuk keperluan itu tidak ada pembicaraan dari rapat awal. Hey, bau amis nanti juga akan tercium! Betul tidak, Kang Rizal?”

Rizal kebingungan. “AKU! Kok aku sih, Nis?”

“Jangan berlagak bodoh deh di depan saya, Kang, sudah berapa lama Akang ikut kepengurusan? Pasti tahu kan rumor, eh, bukan rumor jika memang benar itu dilakukan dia! Apa ya?”  

Semua terdiam. Bahkan jamaah lain yang berada di satu meja yang tadi ikut menyimak pembicaraan mereka ikut terdiam juga seperti melihat sinetron kesayangan mereka. 

Anis memulai perangnya kembali, “saya masih dongkol apalagi saat dia berkata: ini dakwah loh, kawan-kawan. Dengan wajahnya yang sok karismatik dan agamais itu. Ah, sudahlah… membayangkannya saja makin buat sakit hati ini!”

Anis memandang sinis kepada Rizal, “Jadi, Kang Rizal tidak mau cerita kenapa tiba-tiba berhenti dari kepengurusan setelah dapat penghargaan pengurus aktif, dan dengan alasan banyak pekerjaan mengundurkan diri?” 

Rumaisha kebingungan. Dia hanya tidak mengerti saat itu Rizal memang tiba-tiba izin untuk tidak aktif di kepengurusan, dan kenapa Anis tahu penyebab keputusan itu.

“Saya memang tidak ingin mempermasalahkan itu. Buku saya sudah ditutup rapat-rapat untuk hal itu,” ujar Rizal disela suasana yang mulai sepi. Hanya tinggal mereka bertiga. “Ampuni kebimbangan saya. Hanya satu yang pasti, RUMOR itu benar adanya. Bahkan keputusan saya untuk berhenti karena memang saya tidak ingin dikait-kaitkan dengan dia lagi. Seperti yang tadi Anis bilang kan, bau amis pasti akan tercium, dan buktinya semua orang tahu kebenarannya.”

Pewarna bibir Rumaisha meninggalkan goresan merah muda di tepi gelas, dan Anis sudah mulai lebih tenang dibandingkan sebelum dia menghabiskan makan siangnya. Sementara itu di ujung sana hujan turun deras. Seorang pria berjenggot runcing dengan memakai peci putih menepi di sebuah toko kelontong. Lalu ia mencari nomor kontak seseorang di ponselnya. Lama ia menimbang-nimbang, dan akhirnya urung juga. Hanya saja ada jejak digital yang tidak sempat terhapus. 

“Dia, tumben. Ada apa?” kata Rizal dalam pikirnya. Dia berhenti sesaat. Rumaisha melihat Rizal dengan kecemasan yang sama dirasakan kekasih hatinya. Anis melihat keduanya yang sama-sama bertingkah menggemaskan, tetapi hatinya sakit karena pria dihadapanya telah memilih teman hidup. []

Bandung, 1 Desember 2022

Hadi S Abdullah

Setelah kehilangan minat dengan pekerjaannya sebagai kontraktor, Achdi (begitu Ibu memanggilnya kala bocah) mulai mengikuti intuisinya. Kini Achdi berusaha menjadi penulis – walaupun banyaknya gagal dibanding berhasil menulis sebuah karya. Ya, lumayan buat mengisi banyak waktu luangnya sebagai pengangguran. Achdi juga dapat dilihat di Instagram @hadi.s.abdullah. 


Komentar